INFOTREN.ID - Sebuah temuan medis penting telah diungkapkan dalam forum ilmiah internasional American Heart Association’s Scientific Sessions 2025 mengenai risiko kesehatan yang terkait dengan konsumsi suplemen melatonin. Penelitian tersebut menyoroti adanya korelasi antara penggunaan melatonin dalam jangka panjang dengan peningkatan risiko penyakit jantung serius.
Risiko ini secara spesifik mengarah pada kondisi gagal jantung, kebutuhan rawat inap, bahkan peningkatan risiko kematian pada populasi pasien yang menderita insomnia kronis. Data menunjukkan bahwa pengguna melatonin dalam jangka panjang memiliki lonjakan risiko gagal jantung yang signifikan.
Menurut penelitian tersebut, risiko gagal jantung bagi mereka yang mengonsumsi melatonin secara berkelanjutan melonjak hampir mencapai 90 persen selama periode lima tahun pengamatan. Data ini bersumber dari analisis mendalam terhadap 130.828 orang dewasa yang didiagnosis dengan insomnia kronis.
Riset ini melibatkan perbandingan antara dua kelompok besar, yakni 65.414 peserta yang mengonsumsi melatonin minimal selama satu tahun dengan kelompok kontrol yang tidak mengonsumsi suplemen tersebut. Hasilnya menunjukkan angka kejadian gagal jantung sebesar 4,6 persen pada kelompok pengguna melatonin, kontras dengan 2,7 persen pada kelompok kontrol.
Selain risiko gagal jantung, pengguna melatonin juga menghadapi ancaman kesehatan lain yang lebih tinggi, termasuk risiko rawat inap yang mencapai 3,5 kali lebih besar dan risiko kematian yang dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan kelompok non-pengguna. Data ini diperoleh dari rekam medis elektronik peserta selama lima tahun melalui TriNetX Global Research Network.
Untuk memastikan validitas hasil, peneliti telah melakukan penyaringan ketat, mengecualikan pasien dengan riwayat gagal jantung awal atau mereka yang mengonsumsi obat tidur jenis benzodiazepin. Analisis sensitivitas tambahan juga memperkuat temuan ini setelah kriteria diperketat, seperti mewajibkan penebusan minimal dua resep melatonin dengan jarak waktu minimal 90 hari.
Meskipun demikian, para peneliti menekankan bahwa studi ini baru mengindikasikan adanya korelasi dan belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara definitif. Faktor lain seperti tingkat keparahan insomnia, komorbiditas seperti depresi atau kecemasan, dan penggunaan obat lain berpotensi memengaruhi hasil akhir kondisi jantung pasien.
Dilansir dari Media Indonesia pada Kamis (29/5/2026), Dr. Ekenedilichukwu Nnadi, peneliti utama studi dari SUNY Downstate/Kings County Primary Care di Brooklyn, New York, memberikan pandangannya mengenai implikasi temuan ini. "Melatonin mungkin tidak seaman yang selama ini diasumsikan masyarakat. Jika hasil penelitian ini terbukti lebih lanjut, temuan ini dapat memengaruhi cara dokter memberikan saran terkait penggunaan obat bantu tidur," ujar Dr. Ekenedilichukwu Nnadi.
Keterbatasan studi juga disorot, termasuk perbedaan regulasi antarnegara, misalnya perbedaan antara Amerika Serikat yang menjual bebas melatonin dengan Inggris yang mewajibkan resep dokter. Selain itu, abstrak penelitian ini juga mencatat bahwa proses peer review formal belum dilakukan.