JAKARTA, Infotren.id - Nama Dyastasita Widya Budi tengah menjadi sorotan publik usai viralnya kontroversi dalam final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat. 

Sosok yang akrab disapa Dyastasita WB itu ramai diperbincangkan di media sosial setelah dianggap tidak adil saat memimpin jalannya penilaian dalam perlombaan tersebut.

Diastasita Widya Budi diketahui merupakan pejabat di lingkungan Sekretariat Jenderal MPR RI. Ia menjabat sebagai Kepala Biro Pengkajian Konstitusi Setjen MPR RI. 

Dalam tugasnya, Dyastasita aktif terlibat dalam berbagai program sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang mencakup Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika.

Selama berkarier di lingkungan MPR RI, ia dikenal sering mengikuti agenda nasional yang berkaitan dengan pendidikan kebangsaan dan penguatan nilai-nilai konstitusi kepada pelajar maupun masyarakat. Namanya juga tercatat dalam sejumlah kegiatan resmi MPR RI sebagai bagian dari jajaran biro pengkajian dan sosialisasi konstitusi.

Namun belakangan, namanya mendadak viral usai video final LCC Empat Pilar MPR RI tersebar luas di media sosial. Dalam video tersebut, terjadi perdebatan antara Josepha Alexandra, peserta dari SMA Negeri 1 Pontianak dengan pihak juri terkait jawaban mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Saat sesi berlangsung, regu dari SMA Negeri 1 Pontianak yang diwakilkan oleh Josepha Alexandra disebut lebih dulu menekan bel dan memberikan jawaban. Akan tetapi, Dyastasita sebagai juri menyatakan jawaban tersebut salah dan memberikan pengurangan nilai sebesar minus lima poin kepada regu C.

Setelah itu, regu lain yakni SMA Negeri 1 Sambas diberi kesempatan menjawab dan memperoleh nilai penuh sebesar 10 poin. Keputusan tersebut kemudian memicu protes dari peserta SMA Negeri 1 Pontianak karena mereka menilai jawaban kedua regu sebenarnya memiliki inti yang sama.

Video perdebatan itu pun cepat menyebar di berbagai platform media sosial. Banyak netizen mempertanyakan keputusan juri dan menilai terjadi ketidakadilan dalam proses penilaian.