INFOTREN.ID - Aktivitas pelayaran di salah satu jalur maritim paling vital di dunia, Selat Hormuz, dilaporkan telah kembali normal. Kondisi ini terjadi setelah adanya kesepakatan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang meredakan ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.
Arus kapal tanker yang sebelumnya sempat terhenti akibat eskalasi politik kini mulai bergerak kembali ke rute normalnya. Hal ini memberikan secercah harapan bagi pasar energi global terkait stabilitas perdagangan minyak internasional.
Namun, di tengah optimisme tersebut, para pelaku industri logistik menyuarakan peringatan penting. Mereka menekankan bahwa pemulihan lalu lintas pelayaran tidak serta-merta menghilangkan semua risiko yang membayangi kelancaran rantai pasok global.
Gangguan pada Selat Hormuz telah berlangsung sejak akhir Februari 2026, menghentikan pergerakan hampir 600 kapal niaga. Peristiwa ini juga menyebabkan sekitar 20.000 pelaut terdampar di perairan Teluk selama masa penutupan jalur tersebut.
Penutupan jalur krusial tersebut diperkirakan telah menghambat sekitar 20 persen dari total perdagangan minyak dunia. Dampak langsungnya terasa pada kenaikan signifikan biaya logistik di berbagai sektor.
"Pemulihan lalu lintas pelayaran tidak otomatis menjamin berakhirnya risiko terhadap rantai pasok global," ujar salah satu pelaku logistik, mengingatkan akan potensi kerentanan yang masih ada.
Kesepakatan yang mendasari pembukaan kembali jalur ini adalah memorandum kesepahaman yang ditandatangani pada pertengahan Juni 2026. Iran memberikan izin bagi kapal niaga untuk melintasi Selat Hormuz tanpa pungutan biaya selama periode 60 hari ke depan.
Gangguan sebelumnya juga memicu lonjakan pada premi asuransi maritim dan tarif pengiriman internasional. Kenaikan biaya ini merupakan konsekuensi langsung dari ketidakpastian navigasi di area sensitif tersebut.
Dilansir dari BisnisMarket.com, pembukaan kembali jalur Hormuz ini menjadi perkembangan signifikan dalam menjaga kelancaran suplai energi dunia. Langkah ini diharapkan dapat menstabilkan harga komoditas energi dalam jangka menengah.