INFOTREN.ID - Fenomena polyworking, yaitu praktik memiliki lebih dari satu pekerjaan secara simultan, kini menjadi tren yang cukup signifikan di kalangan angkatan kerja Indonesia. Tren ini tidak hanya sekadar mencari penghasilan tambahan, namun juga mencerminkan perubahan lanskap ekonomi dan tuntutan hidup modern.

Apa sebenarnya yang mendorong peningkatan jumlah pekerja yang mengambil peran ganda ini? Faktor utama sering kali berkaitan dengan upaya meningkatkan stabilitas finansial di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.

Pekerjaan sampingan ini mencakup beragam sektor, mulai dari pekerjaan lepas digital, konsultasi, hingga bisnis mikro yang dijalankan di luar jam kerja utama. Keberagaman ini menunjukkan fleksibilitas yang ditawarkan oleh model kerja baru.

Siapa saja yang paling terpapar tren ini? Umumnya adalah profesional muda dan pekerja dengan keahlian spesifik yang memungkinkan mereka menawarkan jasa di luar jam kantor formal mereka.

Kapan tren ini mulai terasa semakin kuat? Peningkatan signifikan terlihat pasca pandemi COVID-19, ketika banyak individu menyadari pentingnya memiliki sumber pendapatan yang terdiversifikasi.

Mengapa pekerja merasa perlu melakukan polyworking? Selain kebutuhan finansial, banyak yang mencari pemenuhan diri atau pengembangan keterampilan baru melalui pekerjaan kedua mereka.

"Saat ini, banyak pekerja yang mengejar polyworking karena tekanan ekonomi dan kebutuhan untuk diversifikasi pendapatan di tengah ketidakpastian," ujar seorang analis ketenagakerjaan.

Bagaimana dampak tren ini terhadap kesejahteraan pekerja? Di satu sisi, pendapatan meningkat, namun di sisi lain, risiko kelelahan atau burnout juga menjadi ancaman serius yang harus dihadapi.

Dampak lain terlihat pada produktivitas di pekerjaan utama, di mana energi yang tersisa mungkin tidak maksimal karena terbagi untuk pekerjaan sampingan yang dikerjakan pada waktu yang berbeda.