INFOTREN.ID - Bulan Mei 2024 menyajikan tontonan kosmik yang memukau bagi para pengamat langit di Indonesia, menawarkan kombinasi antara peristiwa rutin tahunan dan kejadian yang tergolong jarang terjadi. Serangkaian atraksi alam semesta ini akan memeriahkan langit malam sepanjang bulan tersebut.
Peristiwa astronomi yang paling dinanti antara lain adalah puncak dari hujan meteor Eta Aquarids, serta kemunculan fenomena Bulan Purnama yang unik yang sering dijuluki sebagai 'Blue Moon'. Kedua peristiwa ini menawarkan kesempatan langka untuk menyaksikan keindahan angkasa luar.
Untuk memaksimalkan pengalaman mengamati fenomena ini, para astronom amatir sangat dianjurkan untuk mencari lokasi yang minim polusi cahaya buatan dari perkotaan. Selain itu, kondisi cuaca juga memegang peranan penting, di mana langit yang cerah tanpa tutupan awan tebal sangat esensial.
Salah satu peristiwa yang telah tercatat di awal bulan adalah fase Bulan Purnama yang jatuh tepat pada tanggal 1 Mei. Fenomena ini memiliki makna historis dan budaya yang mendalam bagi beberapa komunitas.
Fenomena Bulan Purnama awal Mei ini memiliki sebutan khusus yang berasal dari tradisi suku asli Amerika. Mereka menamainya "Flower Moon" karena waktu kemunculannya bertepatan dengan periode puncak mekarnya berbagai jenis bunga di musim semi.
Dikutip dari NASA dan Seasky.org, salah satu peristiwa yang telah terjadi di awal bulan adalah Bulan Purnama yang jatuh pada 1 Mei.
"Bulan Purnama yang jatuh pada 1 Mei oleh suku asli Amerika dahulu disebut sebagai 'Flower Moon' karena bertepatan dengan masa mekarnya bunga-bunga musim semi," demikian informasi yang disampaikan oleh sumber tersebut.
Untuk dapat menikmati suguhan alam semesta yang ditawarkan sepanjang Mei ini secara optimal, para pengamat disarankan mencari lokasi yang jauh dari polusi cahaya perkotaan dan memastikan langit tidak terhalang oleh awan tebal. Pengamatan yang sukses sangat bergantung pada persiapan lokasi dan kondisi atmosfer yang mendukung.
Beberapa atraksi langit yang akan terjadi di bulan ini dapat dinikmati langsung menggunakan mata telanjang, namun untuk detail yang lebih jelas, penggunaan alat bantu seperti teleskop atau teropong tetap disarankan.