INFOTREN.ID - Pergerakan nilai tukar Rupiah pada akhir perdagangan pekan ini menunjukkan adanya tekanan pelemahan yang cukup mencolok. Mata uang domestik tersebut tercatat menghadapi sentimen pasar yang kurang menguntungkan di bursa valuta asing.
Pada hari perdagangan terakhir pekan ini, yaitu Jumat, 22 Mei 2026, Rupiah secara resmi menutup transaksi di posisi yang melemah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini menjadi perhatian utama bagi pelaku pasar keuangan domestik.
Pelemahan yang terjadi pada hari Jumat ini merupakan kelanjutan dari tren negatif yang sebelumnya sudah terlihat pada hari perdagangan sebelumnya. Tren ini mengindikasikan adanya kekhawatiran yang mempengaruhi persepsi investor terhadap mata uang Garuda.
Secara spesifik, nilai tukar Rupiah tercatat terkoreksi hingga menyentuh level Rp17.683 per Dolar AS pada penutupan sesi perdagangan pasar spot exchange. Angka ini menandakan depresiasi nilai tukar mata uang kita.
Faktor utama yang diidentifikasi sebagai pemicu pelemahan signifikan ini adalah eskalasi ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Situasi global yang memanas selalu menjadi sentimen negatif bagi mata uang berisiko seperti Rupiah.
Dikutip dari BISNISMARKET.COM, pergerakan mata uang Garuda di akhir pekan ini menunjukkan adanya tekanan pelemahan yang cukup signifikan pada perdagangan pasar spot exchange hari Jumat, 22 Mei 2026.
Lebih lanjut, pelemahan tersebut dikonfirmasi melanjutkan tren negatif yang sudah terjadi pada hari perdagangan sebelumnya. Hal ini secara jelas menandakan adanya sentimen pasar yang kurang menguntungkan bagi mata uang domestik kita, menurut analisis pasar.
Terakhir, mata uang Rupiah secara resmi tercatat melemah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari itu, menggarisbawahi dampak dari ketidakpastian ekonomi dan politik global terhadap kinerja mata uang lokal.