INFOTREN.ID - Sebuah fenomena menarik tengah menjadi sorotan di Amerika Serikat, di mana sejumlah pekerja dari Generasi Z (Gen Z) diberhentikan dari pekerjaan mereka dalam waktu singkat setelah proses rekrutmen selesai. Kejadian ini diyakini dipicu oleh adanya jurang pemisah signifikan antara ekspektasi yang dimiliki oleh para pekerja muda dan tuntutan standar yang ditetapkan oleh perusahaan.

Kondisi ini diperparah oleh perkembangan pesat di dunia teknologi, khususnya dalam adopsi kecerdasan buatan (AI) yang mulai menggantikan posisi-posisi awal dalam dunia kerja. Banyak lulusan baru yang menargetkan sektor produksi sesuai latar belakang akademis mereka, namun kini sektor tersebut rentan terhadap otomatisasi.

"Kecerdasan buatan kini mampu menangani pekerjaan-pekerjaan tingkat pemula, yang berpotensi memperlambat laju penyerapan tenaga kerja bagi mereka yang baru lulus," ujar Profesor dari New York University (NYU), Suzy Welch.

Melalui instrumen survei bernama The Values Bridge, Welch berhasil mengumpulkan data yang menunjukkan perbedaan nilai kerja yang sangat mencolok antara dua pihak. Hasil survei tersebut mendapati bahwa hanya dua persen dari Gen Z yang berhasil memenuhi kriteria esensial yang dibutuhkan oleh para pemberi kerja.

Data survei tersebut menunjukkan bahwa korporasi sangat mengutamakan karyawan yang memiliki fokus tajam serta orientasi kuat terhadap pencapaian target tertentu. Sebaliknya, Gen Z cenderung lebih memprioritaskan aspek individualitas pribadi dan praktik perawatan diri atau self-care dalam kehidupan profesional mereka.

Generasi muda ini diketahui enggan mengikuti etos kerja generasi sebelumnya yang sering menuntut kerja lembur demi kemajuan karier, mengingat mereka melihat dampak kelelahan ekstrem pada senior mereka. Bagi mereka, solidaritas membantu rekan kerja dianggap lebih bernilai, sementara perusahaan menuntut semangat ambisius untuk meraih kemenangan bisnis.

"Terjadi ketidaksesuaian nilai yang sangat substansial, dan inilah kesenjangan yang kita amati sedang terjadi saat ini," jelas Welch mengenai perbedaan fundamental tersebut.

Selain perbedaan prinsip kerja, preferensi terhadap model kerja juga menjadi faktor pembeda yang signifikan, terutama dengan kecenderungan mayoritas Gen Z yang menyukai sistem kerja jarak jauh atau remote. Ketika jajak pendapat dilakukan di antara mahasiswa, sekitar 80 persen dari mereka menyatakan preferensi untuk bekerja dari rumah.

Dikutip dari Detikcom, sistem kerja remote dikhawatirkan menghilangkan kesempatan krusial bagi pekerja muda untuk mengembangkan kemampuan sosial secara langsung di lingkungan kantor. Padahal, interaksi tatap muka dan kepekaan emosional antar karyawan sangat penting bagi pertumbuhan profesional jangka panjang.