INFOTREN.ID - Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung diwarnai aksi jual pada awal pekan ini, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kondisi makroekonomi global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami tekanan jual yang cukup kuat sejak bel pembukaan perdagangan.

Pada perdagangan hari Senin, 13 April, pergerakan IHSG menunjukkan tren penurunan yang cukup dalam. Penurunan ini terjadi meskipun ada upaya pasar domestik untuk menahan laju pelemahan tersebut.

Data RTI pada pukul 09.13 WIB menunjukkan bahwa IHSG telah tergerus sebanyak 0,44% dari penutupan sebelumnya. Koreksi ini setara dengan kehilangan 33 poin dari posisi penutupan hari sebelumnya.

Level indikator utama bursa saham nasional terpantau berada di angka 7.425,496 pada waktu tersebut, menunjukkan sentimen pasar yang cenderung negatif. Tekanan jual ini tidak hanya datang dari dalam negeri tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika pasar global.

Kondisi ini diperparah oleh sentimen negatif yang datang dari pergerakan harga minyak dunia yang volatil. Harga komoditas energi seringkali menjadi barometer penting bagi sentimen investasi di pasar saham.

Lebih lanjut, dari sisi pergerakan saham, mayoritas emiten terpantau berada di zona merah. Sebanyak 357 saham tercatat mengalami pelemahan harga pada awal sesi perdagangan tersebut.

Kondisi mayoritas saham yang melemah ini mengindikasikan bahwa tekanan jual bersifat luas dan menyeret hampir seluruh sektor di bursa. Investor cenderung memilih untuk melakukan aksi ambil untung atau mengurangi eksposur risiko.

Tercatat bahwa pelemahan IHSG pada pagi hari tersebut dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang saling memperkuat. Sentimen global menjadi pendorong utama koreksi signifikan ini.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Investasi.kontan. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.